KITAB KLASIK ISLAM

Free Ebook Download

Recent Posts

Latest Uploads

Archives

Label Cloud

Badge


Add Your Link



Contents:

  1. Agama
  2. Allah, Hati MemanggilMu
  3. Ampunilah Saya
  4. Angin Sepoi-Sepoi
  5. Astaghfirullah
  6. Asyik Nama Allah
  7. Ayolah Jiwa Yang Tenang
  8. Badan dan Hati
  9. Biduan IstanaNya
  10. Cinta Saja
  11. Dari Timur Terbit Cahaya
  12. Dendang Sufi
  13. Di Dalam Taman Kekasih
  14. Don't Turn Back
  15. Harta Dalam Puing
  16. Hentakkanlah Kaki
  17. Insya Allah
  18. Kami Tak Keluar
  19. Kemerdekaan
  20. Lautan Hatiku
  21. Mazhab Cinta
  22. (Mustofa Ainul Wara) مُصْطفى عَينُ الورى
  23. Nyawa dan Cinta
  24. Salawat Buat Ahmad
  25. Sallallahu
  26. Satu Lagu Lagi
  27. Tawanan Kegembiraan
  28. Tobat Berkali-kali

Agama

Agama Nabi Allah

refrein:
Jikalau agama saya,
Tidak memenuhi kalbu,
Dengan gula dan cahaya,
Tidak mau agama itu.

Jikalau hatiku kecewa,
Dan tetap gelap-gulita,
Apa gunanya agama,
Itulah nama belaka.

Agamamu dikurangi,
Kalau hati tak melagu,
Dan kau tetap dicurangi,
Kalau hidupmu begitu.

refrein

Seharusnya agamamu,
Menjadi seperti kunci,
Kunci yang membuka pintu,
Maka hati dipenuhi.

Dipenuhi hati itu,
Dengan cahaya dan gula,
Jikalau tidak begitu,
Agamamu tak sempurna.

refrein

Islam bukan nama saja,
Adalah agama suci,
Lengkap dan memang sempurna,
Kalau datang dari Nabi.

Langsung dari Nabi Allah,
Tidak dari hawa nafsu,
Nafsu yang gelap gulita,
Tidak menerangi kalbu.

Refrain

Back to top

Allah, Hati MemanggilMu

Hamba ini tetap heran,
Meminta-minta rahmatMu,
Dalam dunia diasingkan,
Allah, hati memanggilMu!

Ada yang ingin pahala,
Hamba tak ingin selainMu,
Itu adalah berhala,
Allah, hati memanggilMu!

Memang tak kuingin surga,
Walaupun adalah ayu,
Kudamba hanya Sahibnya,
Allah, hati memanggilMu!

Tanpa wajahMu di surga,
Jadi muka hauri kuyu,
Dari wajahMu cahaya,
Allah, hati memanggilMu!

HambaMu ini termala,
Hatiku menjadi mutu,
Aku mangsa serigala,
Allah, hati memanggilMu!

Cintaan hambaMu lemah,
Kumengadu kepadaMu,
Aku selalu terlecah,
Allah, hati memanggilMu!

Hamba ini tetap heran,
Meminta-minta rahmatMu,
Dalam dunia diasingkan,
Allah, hati memanggilMu!

Hamba ini tetap heran,
Meminta-minta rahmatMu,
Dalam dunia diasingkan,
Allah, hati memanggilMu!

Allah, hati memanggilMu!

Back to top

Ampunilah Saya

Ya Allah! Ampunilah,
Dosa-dosaku,
Yang Kau mengetahuinya,
Lebih baik dariku.
(2X)

Ya Rabbi! Kalau kuberbuat,
Dosa dan daga-dagi,
Biarlah ampunanMu,
Menutupinya lagi. (2X)

Ya Rabbi! Ampunilah,
Dosa yang dibuat,
Oleh mataku,
Ampunilah hambaMu!

Ampunilah kata-kataku,
Yang keji dan buruk,
Dan ampunilah ketidakmampuanku,
Menahan nafsuku. (2X)

CintaanMu kepada,
Mereka yang Kau suka,
Memang adalah lebih daripada,
Cinta yang dalam dunia. (2X)

Kau Sendiri bantuan mereka,
Yang tawakal padaMu,
Dengarlah kepadaku,
Wahai Tuhanku!

Berikanlah petunjuk padaku,
Agar kumeminta,
DariMu apa yang menguntungkan,
HambaMu selalu. (2X)

Ya Allah, adiliku,
Di dalam urusanku,
Berdasarkan keampunanMu,
Tak keadilanMu. (2X)

Back to top

Angin Sepoi-Sepoi

Bawalah keharumannya,
Atas punggung samirana*,
Biarkan datang kayak kuda,
Dengan pengendara.

Angin sepoi-sepoi pagi,
Pesuruh dinihari,
Bawalah keharumannya,
Hatiku menari.

Kalau bawa untuk saya,
Seikal rambutnya,
Kumenukar jagat raya,
Serta jiwa saya.

Bawalah keharumannya,
Atas punggung samirana,
Biarkan datang kayak kuda,
Dengan pengendara.

Kalau tak boleh kaumasuk,
Dan mendekatinya,
Tinggalkanlah pesan rindu,
Dekat gapuranya.

Kalau bisa kaumendapat,
Dari pintu gerbangnya,
Bawa debu yang berkilat,
Bagai celak mata.

Bawalah keharumannya,
Atas punggung samirana,
Biarkan datang kayak kuda,
Dengan pengendara.

(*samirana: angin sepoi-sepoi)

Back to top

Astaghfirullah

Astagfirullaha Rabbi Min kulli dzanbin wa khatak,

Ya Ghafar!

Astagfirullaha Rabbi,
Min kulli dzanbin wa khatak,
Biarlah hamba menakrabi,
WajahMu yang bersemarak.

Astagfirullah

Biarlah kumendekatiMu,
Dan tanpa halangan yang lain,

Ya Ghafar!

Biarlah kumendekatiMu,
Dan tanpa halangan yang lain,

Menjadi saksi mataMu,
Jangan tetap belakang kain.

Astagfirullah

Maka bersihkanlah kalbu,
Izinkanlah aku lihat,

Biarlah kulihat wajahMu,
Lihat cayanya berkilat.

Astagfirullaha Rabbi Min kulli dzanbin wa khatak,

Back to top

Asyik Nama Allah

Saya asyik nama Allah,
Tak pernah menjadi kenyang,
Daripada lezatanNya,
Dan selalu hamba senang.

S'karang ini, wahai kawan,
Kumenikmati rasanya,
Sudah hamba masuk medan,
Medan kemanisan nama.

Ya Hayy, bantulah, bantulah! (2X)

"Allah, Allah" senantiasa,
Kuberzikir nama Tuhan,
Hal yang ini luar biasa,
Dalam surga sebuah taman.

Nama Allah membersihkan,
Hati yang penuh berhala,
Nama Allah mengaribkan,
Hati menjadi nirmala.

Ya Hayy, bantulah, bantulah! (2X)

Berzikir sepanjang hari,
Allah, Allah, Allah, Allah,
Kita datang dan kembali,
Allah, Allah, Allah, Allah.

Ya Hayy, bantulah, bantulah! (2X)

Allah salli ala Ahmad,
Nabi dan Rasulullahi,
Allah, Wahid, Ahad, Samad,
Baki, Abadi, Lestari.

Wa salli ala Alihi,
Iaitu Keluargannya,
Dan juga ala Sahbihi,
Yang memiliki akhlaknya.

Ya Hayy, bantulah, bantulah! (2X)

Back to top

Ayolah Jiwa Yang Tenang

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Ayolah jiwa yang tenang,
Kembali kepada Tuhan,
Tanah air sejati terang.

Kau senang dan menyenangkan.

Di luar dunia dan maya,
Tanah airmu sejati,
Di dalam alam cahaya,
Di situ tak pernah mati.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Tanah airmu tak ada,
Di dalam dunia yang ini,
Padepokanmu di sana,
Dan tak terletak di sini.

Jiwa jauh dari asalnya,
Yakni tanah air itu,
Selalu rindu padanya,
Mencintainya begitu.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Hai nafusul-mutmakina,
Kembali kepada Tuhan,
Kepada alam cahaya,
Hubbul-watan minal-iman.

Tak diucapkan begitu,
“Kembali kepada Tuhan”,
Kalau tak di san dulu,
Dengarlah, wahai pahlawan.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Yang akhir utusan Tuhan.

Hai nafusul-mutmakina,
Kembali kepada Tuhan,
Kepada alam cahaya,
Marilah wahai pahlawan.

Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Rasul bersabda begitu,
Cintamu pada asalmu,
Sebagian dari iman,
Akhir utusan Tuhan.

Back to top

Badan dan Hati

Badanmu sebagian dunia,
Tetapi hati dari Akhirah. (2x)

Kawan badan, adalah udara,
Dan kawan hati, adalah Allah. (2x)

Hati heran di dalam dunia,
Senantiasa terlara-lara*.

Seluruh dunia dan angkasa,
Tak bisa terisi dukaannya. (2x)

Dan jikalau kau suka jiwa,
Jikalau muncul rahmat Allah,
Sebab rinduan dan cinta,
Akan diselamatkannya.

Dan jikalau kecintaanmu,
Adalah untuk udara dan tubuh,
Akan tetap di dalam abu,
Dalam si dunia dan alam rindu.

Jikalau muncul perhasilanNya,
Maka memberikan ilhamnya.

Hai . . .!

Alam lahir adalah tanda,
Yang menunjukkan padaNya,
Yang ini adalah gumpalan tanah,
Tapi yang itu, lautan raya.

Bila muncul sinar matahari,
Maka menghilangkan Bimasakti,

Biarku berdiam sekarang ini!
Kesunyian adalah kunci. (2X)

*terlara-lara: menangis dengan sangat

Back to top

Biduan IstanaNya

Kalau seseorang tanya,
Tentang hamba rendah ini,
Saya hanya biduanNya,
Dalam istanaNya kini.

Hanya biduan istanaNya,
Yakni biduan Maharaja,
Yang melagu laguanNya,
Tentang asmaraNya saja.

Rinduan dan cinta saja,
Memenuhi hati hamba,
Hati takhta Maharaja,
Maka akanNya kudamba.

Jikalau masuk dalamnya,
Dan kau menjadi sahaya,
Yakni dalam istanaNya,
Akan lihat jagat raya.

Rahasia yang mengherankan,
Yang batin menjadi lahir,
Tak kubisa menjelaskan,
Lidah tak begitu mahir.

Hamba masuk dalam hati,
Dan melihat singgasana,
Maka hidup sambil mati,
Bodoh jadi bijaksana.

Itulah teka-tekiNya,
Tapi sangat sederhana,
Masuk dalam istanaNya,
Dan melagu laguanNya.

Back to top

Cinta Saja

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu,
Jadi segala sesuatu,
Yang kumelihat di situ.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Kayak sinar matahari,
Atas permukaan hati,
Cinta itu meliputi,
Hatiku sama sekali.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Dalam hati tetap malam,
Kacau-balau tanpa salam,
Hati muram suram guram,
Gelap buta penuh waham.

Terbit sinar surya terang,
Maka tudung waham hilang,
Tidak terlihat sekarang,
Selain cahaya merelang.

CintaMu dalam hatiku,
Memenuhinya begitu.

Back to top

Dari Timur Terbit Cahaya

Dari timur terbit caya,
Yang menyebar atas bumi,
Memenuhi jagat raya,
Dengan nur yang mengagumi,(2X)

Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah.
Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah,
Hu Allah.

Nur itu memang berkilat,
Menyilaukan mata saya,
Sinar-sinarnya merambat,
Kayak api bercahaya.(2X)

Kumemandang pandanganya,
Yang mengharukan hatiku,
Mengingatkan pada wajah,
Wajah cahaya mataku.(2X)

Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah.
Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah,
Hu Allah.

Tapi caya matahari,
Tak bisa dibandingkannya,
Dengan cahaya lestari,
Itulah jelas dan nyata.(2X)

Memang terang bulan sabit,
Yang lewat jalan angkasa,
Kalau matahari terbit,
Caya bulan tak perkasa.(2X)

Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah.
Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah, Hu Allah,
Hu Allah.

Back to top

Dendang Sufi

Hai marilah berzikir Allah, Allah,
Dan melaksanakan janji setia,
Senantiasa berzikir namanya,
Segala sesuatu daripadanya.

Kalau lihat Allah di mana-mana,
Membuangkan hawa nafsu sederhana,
Maka tidak terlihat selain Allah,
Hilang tipu daya dari hatinya.

Manusia tercipta sebagai hamba,
Yang ditahan dalam penjara dunia,
Dalam kegelapan dapat ilmunya,
Maka dari Hak tak pernah terpisah.

Di dalam dunia cari Singa Allah,
Kalau di sini tidak mendapatnya,
Memang akan jadi bosan di sana,
Harus ikut jalan yang bijaksana.

Tanpa mursyid tak sampai tujuannya,
Tanpa berkahnya tak kenal Tuhannya,
Tanpa mursyid bergaul dengan setannya,
Dan menyangka dia memang temannya.

Datanglah, hai sufi, marilah pulang,
Kesempatan inilah sangat jarang,
Marilah kita bergandengan tangan,
Dan berjalan bersama atas jalan.

Back to top

Di Dalam Taman Kekasih

Di dalam taman ini dengan kekasihku,
Tak pernah keluar dari kedekatannya,
Semoga terbuka tudung, wahai cendra mata,
Tutup pintu kami di sini terpencil saja.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Semoga diangkat sekarang cawan itu,
Cawan keriangan dan suka hati saya,
Ayuhai pemain-pemain serta rebanamu,
Mari kita menyanyi selagu mengharukan!

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Wahai saki, wahai adirupa!
Bawalah anggur harum itu sekarang ini!
Supaya kami semua bisa meminumnya,
Kemudian dapat datang waktu sang tidurnya.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Hoi! Tidur itu memang sangat dalam-dalam,
Di bawah sayang-sayang jagaan kekal kadim*,
Baik minuman ini tak melewati tenggorokan,
Maupun tidur ini tak bersumber pada malam.

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Hari ini kami menjadi,
Sahabat dekat asmara di antara rakyat!

Skarang biarkan hamba tetap berdiam-diam,
Dan tak kumenyatakan segala sesuatu,
Lewat kata-kata engkau tak pernah dikenal,
Karena engkaulah, dari kata lebih nyata.

Sebagai akibat kata jadi pemikiran,
Dan engkau jauh s
kali daripada khayalan
Jadi biarkan hambamu tetap berdiam-diam,
Biarkan saya menikmati cendera mataku.

*kadim: yg abadi

Back to top

Don't Turn Back

Along The Rugged Coastline

Along the rugged coastline my eyes they were fixed,
As the tide rolled in, I tell you, my feelings they were mixed.
The sea stretched out before me with fathoms of blue,
Of the journey that awaited it offered not a clue.

My body trembled so, and my resolution failed,
My palms were cold and wet, and my lips began to pale.
Should I really make this journey, or stay here on the coast?
I considered once again what it was that I wanted most.

I lifted my hand above my brow and looked out once again.
Scanning the horizon, I tried to see the end.
I stood there in the cold wind, it was so very stark,
And I pondered deeply this journey on which I would embark.

Refrain: Don't Turn Back 3x

I dropped my hands down to my sides and stood there by the water.
Thoughts raced through my head of the things I owned, and all my sons and daughters.
This journey I must make alone, I must leave them all behind,
And in the end I wasn't even sure what it was that I would find.

What I needed was a ship to take me across the waves,
I also needed courage but I knew that I wasn't brave.
My determination seemed so weak as I stood there all alone,
But I knew this land that I was in was surely not my home.

Something from deep within me, what it was I couldn't say,
Assured me that my real home across the ocean it did lay,
I knew that I did not belong here, of this I was very sure,
Yet I was not certain I wanted to leave as I stood there on the shore.

Refrain: Don't Turn Back 3x

This indecision haunted me, but my time was running out,
The sea was full of whirlpools and my head was full of doubt.
If I found a ship to take me who was there that could sail it?,
I didn't know if I'd get another chance, and I didn't want to fail it.

A ship is what I needed, for the journey was so long,
A worthy ship with sails and mainmast that were very strong.
And a captain who himself knew the way and could take me on this trip,
Who knew his way through the reefs and whirlpools, and how to guide this ship.

Break

As I stood there contemplating, for I'd decided that I'd go,
I decided in an instant, but it seems so long ago.
There I stood wondering what to do with my feet upon the shore,
A man approached and looked at me, he said his name was Noah.

He said, 'I've got this ship and I think it's just what you need,
And I've made this trip before, so I can make it with some speed.
I've seen the people there that inhabit that domain,
And I can tell from your features that you are just the same.'

So I boarded the ship with him and the journey has begun,
Some days the storms do rage, and some days there is sun.
But he really knows this ship and he really knows the sea,
And in the middle of the tempest, I feel tranquility.

Break: Don't turn back

The journey still continues but that distant shore is near,
When there is a captain like Noah, there's very little fear.
The fear there is it comes from me, it never comes from him.
He tells me this ship will never sink, and he says it with a grin.

Back to top

Harta Dalam Puing

HartaNya disembunyikan,
Di dalam puing yang ini,
Carilah, wahai pahlawan
Dalam puing yang di sini.

Awal mesti disadari,
Apa-apa puing itu,
Maka mulai cari-cari,
Harta Karun yang di situ.

Tubuh-tubuh dari debu,
Yang memang tidak berharga,
Debu bukan harta itu,
Tapi di dalamnya harta.

Hartanya memang tertimbun,
Jangan-jangan diboroskan,
Di dalam puing di gurun,
Cari-cari mendapatkan.

Jikalau terdapat harta,
Bisa dibangunkan lagi,
Istana yang runtuh saja,
Baru dan indah menjadi.

Tapi awal cari-cari,
Jangan malas, jangan lalai,
Cari-cari intisari,
Di dalam hatimu damai.

Puing menjadi istana,
Dulu tak berharga tapi,
Setelah terdapat harta,
Menjadi keraton rapi.

Back to top

Hentakkanlah Kaki

Jangan Duduk

refrein:
Jangan duduk berdirilah,
Hentakkanlah kaki,kawan,
Juga tangan bertepuklah,
Debu terbang jadi awan.

Lagu dari hati,lagu,
Tidak dari mulut saja,
Yang begitu sangat ayu,
Dengarlah,wahai remaja.

Lagu dari hati,lagu,
Tidak dari mulut saja,
Yang begitu sangat ayu,
Dengarlah,wahai remaja.

Harus lagulah bersama,
Kedodoran sangat malu,
Kalau sedang lagu nama,
Yakni nama kekasihmu.

refrein

Jangan lambatkan irama,
Lanjutkanlah bersemangat,
Walaupun berlama-lama,
Semangat adalah syarat.

Jangan lambatkan irama,
Lanjutkanlah bersemangat,
Walaupun berlama-lama,
Semangat adalah syarat.

Berdirilah jangan duduk,
Karena ini Hari Raya,
Harus menerbangkan serbuk,
Tinggalkan dunia dan maya.

refrein

Back to top

Insya Allah

Semoga hati memuji Allah (Insya Allah, insya Allah)
Semoga dijaga dari salah
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga nur menerangi wajahmu
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga cahaya masuk hatimu
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga lidah ingat pada Allah
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga hati merasa pesona
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga menjadi sadar akalmu
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga Allah melindungimu
(Insya Allah, insya Allah)

Subhanallah awni wa hasbi (3X)
La ilaha illahu

Semoga tiap hari jadi hari raya (Insya Allah, insya Allah)
Semoga kau berkorban bagi Allah
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga kau berjalan pada pintuNya
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga kau tidak ingin selainNya
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga kalbu terbakar di cinta
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga tindakanmu tak memalukanmu
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga kau layak akan maafNya
(Insya Allah, insya Allah)
Semoga kau masuk Jannat-FirdausNya
(Insya Allah, insya Allah)

Subhanallah awni wa hasbi (3X)
La ilaha illahu

Allah Taala menjanji rahmatNya ( Masyallah! Masyallah!)
Pandanglah di mana saja lihatnya
( Masyallah! Masyallah!)
Jika diambil selangka padaNya
( Masyallah! Masyallah!)
Allah mengambil sepuluh padamu
( Masyallah! Masyallah!)
Tidak terbatas lautan cinta Allah
( Masyallah! Masyallah!)
Tak pernah terhitung anugerahNya
( Masyallah! Masyallah!)
Siapapun cari Allah mendapatNya
( Masyallah! Masyallah!)
Maka tetap di dalam taman raya
( Masyallah! Masyallah!)

Subhanallah awni wa hasbi (3X)
La ilaha illahu

Back to top

Kami Tak Keluar

Kabar tersebar di kota,
Bahwa musuh sudah lari,
Dikalahkan musuh hina,
Maka melarikan diri.

Allah, Allah, Allah, Allah, La ilaha ilahu. (2X)

Dalam tiap penjuru taman,
Tanpa gaok-gaok gagak1,
Di tiap pojok perayaan,
Tanpa serigala2 galak.

Allah, Allah, Allah, Allah, La ilaha ilahu. (2X)

Kami tak keluar, hai kawan,
Dari sini, dari taman,
Madu, madu, kemanisan,
Sambil mahbub disaksikan.

Allah, Allah, Allah, Allah, La ilaha ilahu. (4X)

1 gagak: hawa nafsu
2 serigala: yaitu: dunia

Back to top

Kemerdekaan

Bulan Allah sudah datang,
Rabbul-Alamin dan Tuhan,
Di dalamnya banyak bujang,
OlehNya dimerdekakan.

Pintu surga, gerbang langit,
Dan lawang rahmah terbuka,
Di dalam Hari Berbangkit,
Amalannya lebih suka.

refrein:
Hu, hu, Allah.
Hu, hu, Allah.
Hu, hu, Allah, La ilaha ilallahu

Bulan Ramadhan, hai kawan,
Lebih baik dari seribu,
Yaitu seribu bulan,
Sama dengan bulan itu.

Di dalamnya beribadat,
Lihatlah berkah kentara,
Dikirimkan malaikat,
Membawa kunci penjara,

refrein

Maka tetap bangun kawan,
Berdoa dan bertahajud,
Tuhanmu sangat dermawan,
Waktu berukuk dan sujud.

Sujud-sujud itu, kawan,
Dalam bulan suci ini,
Menyampaikanmu ke taman,
Kau menikmati di sini.

refrein

Back to top

Lautan Hatiku

Wahai kekasihku,
Hatiku merindu,
Memang merindu akanmu.(2X)

Kayak perak yang murni,
Bersinar waktu malam,

Bayangan indah,
Elok dan ayu,
Bayangan wajah,
Hati merindu.

Membayang Ratu Malam,
Atas lautan hatiku,

Wahai kekasihku,
Hatiku merindu,
Memang merindu akanmu.

Citra wajahmu,
Dibayangkan begitu,
Atas permukaan lautan hatiku.

Tanpa tudung kulihatmu,
Memang citra nurani,

Wahai kekasihku,
Hatiku merindu,
Memang merindu akanmu.
Memang merindu akanmu.

Back to top

Mazhab Cinta

Cinta tak cuma sarana,
Bukanlah pemainan saja,
Adalah akhlak istana,
Cinta sifat ragam Raja.

Mazhab cinta paling aneh,
Sultan dan hambanya sama,
Kedua-duanya remeh,
Dihapuskan oleh kama.

Kalau kumenjadi abu,
Di dalam api asmara,
Dari daftar wujud itu,
Hilangkanlah nama saya.

Mutu kabla an tamutu,
Dalam api cinta mati,
Itulah maksudnya jitu,
Waktu bersabdanya Nabi.

Sudah mati asyik tapi,
Tetap hidup sang maksyuknya,
Hidupnya memang sejati,
Si asyik pinjam hidupnya.

Back to top

مُصْطفى عَينُ الورى

Mustafa ainul waraa

يا عَاشِقاً سَلِّمْ وَقُلْ تَكْرِيْمــاً

ْ

ْلِلْمُصْطَفى عَيْنِ الْوَرى تَسْلِيمـاً

يا راغِباًً جاهِدْ وَقُلْ تَعْظِيــماً

ْ

لِلمُصْطَفى شَمْسِ الضُّحى تَسْلِيماً

يا وَالِهـاً أشْكُرْ وَقُلْ تَطْرِيبـاً

ْ

لِلمُصْطَفى بَدْرِ الدُّجى تَسْلِيمــاً

يا عَالِماً عَلِّمْ وَقُـلْ تَرْحِيْبــاً

ْ

لِلْمُصْطَفى كَنْزِ الْهُدى تَسْليــماً

يا عَارِفاً سَبِّحْ وقُـلْ تَجْلِيْـلاً

ْ

لِلْمُصْطَفى أَهْلِ السَّنىَ تَسْلِيمــاً

يا غارقـاً أذْكُرْ وَقُلْ تَفْضِيْـلاً

ْ

لِلْمُصْطَفى أَهْلِ التُّقى تَسْلِيمــاً

يا سَائلاً أَبْشِرْ وَقُلْ تَمْجِيــداً

ْ

لِلْمُصْطَفى نِعْمِ الذَّرىَ تَسْليمــاً

يا صَادِقاً صَدِّقْ وَقُلْ تَصْدِيقـاً

ْ

لِلْمُصْطَفى نُورِ الثَّرى تَسْلِيمــاً

يا داعِياً أَمِّلْ وَقُلْ تَبْجِيـــلاً

ْ

لِلْمُصْطَفى نَسْمِ الصَّبا تَسْلِيمــاً

يا زَاهِداً جَرِّدْ وَقُلْ تَجْرِيــداً

ْ

لِلْمُصْطَفى نِعْمِ الشّذى تَسْـليمـاً

يا سـالِكاً أسْلُكْ وَقُلْ تَبْتِيـلاً

ْ

لِلْمُصْطَفى عَيْنِ الرِّضى تَسْلِيمـاً

يا مُسْلِماً بَلِّغْ وَقُلْ تَوقِيْـــراً

ْ

لِلْمُصْطَفى قَصْدِ النَّوى تَسْلِيمــاً

يا مُؤْمِناً أَخْلِصْ وَقُلْ تأْكِيْــداً

ْ

لِلْمُصْطَفى أَهْلِ السُّرى تَسْليمـاً

يا مَنْ وُصِفْتُمْ بالنجَابَةِ وَالتُّقــى

ْ

صلُّوا عَلَيهِ وَســـلِّموا تَسْليْماً

Back to top

Nyawa dan Cinta

Nyawa dan cinta menjelma,
Yakni kedua-duanya,
Di zaman dulu bersama,
Diciptakan oleh Allah.

Dengan cara sangat khusus,
Roh dan cinta dicampurkan,
Dan cinta yang memang halus,
Menghilang dalam campuran.

Kekuatan campurannya,
Menyatukan roh dan cinta,
Entah cinta atau nyawa,
Jadi zat atau sifatnya.

Mungkin cinta jadi zatnya,
Yaitu zat campurannya,
Mungkin roh jadi sifatnya,
Atau mungkin sebaliknya.

Dengan cara sangat khusus,
Roh dan cinta dicampurkan,
Dan cinta yang memang halus,
Menghilang dalam campuran.

Natijah campuran itu,
Cinta dan roh berbicara,
Dan saling dengar begitu,
Bersama dipelihara.

Asal cinta api tapi,
Angin itu asal nyawa,
Angin menyalakan api,
Maka membakar anginnya

Dengan cara sangat khusus,
Roh dan cinta dicampurkan,
Dan cinta yang memang halus,
Menghilang dalam campuran.

Entah ini, entah itu,
Saya tidak tahu, kawan,
Memang tidak tahu jitu,
Adalah keajaiban.

Dengan cara sangat khusus,
Roh dan cinta dicampurkan,
Dan cinta yang memang halus,
Menghilang dalam campuran.

Back to top

Salawat Buat Ahmad

Ya Allah salli ala Ahmad,
Yakni Muhammad Mustafa,
Ya Wahid, Ahad dan Samad,
Salli ala Rasul Allah.

Salli aleyhi wa sallim,
Nabi dan Rasul hidayah,
Nabi Allah, Maha Karim,
Intisarinya cahaya.

Salawat atas Muhammad,
Dan atas keturunannya,
Salli aleyhim, Ya Ahad,
Rasul dan keluarganya.

Kirimkanlah salawatMu,
Kayak yang sudah dikirim,
Yang dikirim zaman dulu,
Pada nabiMu Ibrahim.

Salawat yang tanpa batas,
Pada Muhammad Mustafa,
Kayak yang dikirim atas,
Ibrahim dan turunannya.

Biarkan salawat yang ini,
Menjadi didalam sorga,
Nur dan cahaya yang murni,
Seperti seribu surya.

Matahari dalam dunia,
Terbenam senantiasa,
Tetapi seribu surya,
Yang itu luar biasa.

Sribu matahari ini,
Yang datang dari salawat,
Tetap cemerlang begini,
Dalam dunia dan akhirat.

Back to top

Sallallahu

Sallallahu, Sallallahu

Sallallah ala Muhammad,
Sallallah ala Muhammad,
Salawat yang di lanjutkan,
Senantiasa atas Ahmad,
Yang lentera kegelapan.

refrein:
Sallallahu,Sallallahu,
Ala Ahmad, Nur ul-Huda,
Sallallahu,Sallallahu,
Ala Ahmad Mustafa.

Ahmad itu penjelmaan,
Cinta Ilahi dan nikmat,
Cahayanya dari Tuhan,
Mari kita bersalawat.

Salawat dengan tiap nafas,
Sejumlah tiap butir pasir,
Moga-moga, tak terbatas,
Salawat membuka tabir.

refrein

Salawat adalah caya,
Dan jikalau dikirimkan,
Jadi caya atas caya,
Campurannya mengharukan.

Salawat adalah surya,
Tapi tak pernah terbenam,
Bagai matahari dunia,
Hilang dan menjadi suram.

Salawat atas Muhammad,
Yang diutus demi cinta,
Sallallahu ala Ahmad
Berkahnya kita meminta.

Refrein

Back to top

Satu Lagu Lagi

Lagu satu lagu lagi!
Tentang kekasih sejati,
Tuangkan anggur, hai habibi!
Penuhilah cangkir hati!

Berlagulah, berebana,
Nantiasa hati teguh,
Lihatlah bulan purnama,
Mari sampai waktu subuh!

Mainkan gambus dan berlagu,
Kekasihmu sudah datang,
Mengapa kau sayu rayu,
Lihatlah wajahNya riang.

Ratu malam jalan-jalan,
Lewat langit pelan-pelan,
Mengapa berhampa tangan?
Ambillah cangkir, hai kawan!

Cinta tampak mudah tapi,
Ah! jadi berjalin-jalin,
Ya Rabana remas api!
Tuangkan anggur rahmat, amin.

Anggur itu dari Tuhan,
Cinta suci, rahmat murni,
Hakk hakiki yang dituangkan,
Di penjara dunia fani.

Rahmat itu jadi lahir,
Dengan Ahmad, wahai teman,
Datang atas angin takdir,
Yang bertiup dari Taman.

Lagu satu lagu lagi!
Tentang kekasih hakiki,
Tuangkan anggur, hai habibi!
Penuhilah cangkir hati!

Back to top

Tawanan Kegembiraan

Wahai saudara-saudari,
Mari mengharubirukan,
Mari melarikan diri,
Dari rantai-rantai zaman.

Mari kita duduk, kawan,
Diatas Tahta daulat,
Mari bangkit sekalian,
Dari nafsu berangkat.

Mari kita tak memilih,
Habib kecuali Dia,
Mari tak duduk disini,
Dengan yang terhina.

Wahai Allah, banjir kalbu hambamu,
Memang sangat kubersyukur padaMu.

Jangan sayu-rayu, kawan,
Dari dunia fani itu,
Tuangkanlah anggur riangan,
Dalam cawan kalbu.

Saya menjadi tawanan,
Tawanan kemujuran,
Tidak hanya pantangan,
Bukan pertapaan.

Kalau pergantian zaman,
Datang dengan kekerasan,
Dan dilihat kekasaran,
Tak pernah kumelawan.

Wahai Allah, banjir kalbu hambamu,
Memang sangat kubersyukur padaMu.

Kalbuku penuh gulali,
Dan jadi sangat riang,
Sudah talak tiga kali,
Dunia itu, jadi girang.

Mabuk berahi sejati,
Tak bisa dijelaskan,
Apa yang didalam hati,
Tak bisa dibayangkan.

Mari kita tak memilih,
Habib kecuali Dia,
Mari tak duduk disini,
Dengan yang terhina.

(Break)


Wahai Allah, banjir kalbu hambamu,
Memang sangat kubersyukur padaMu.
Hati hambamu selalu melagu,
Dengan suaranya yang indah dan merdu.

Hati hambaMu menjadi penuh,
Dengan gula dan manisanMu

Back to top

Tobat Berkali-kali

refrein:
Jangan putus asa,kawan,
Pada tobat ini kembali,
Kalau langgar penyesalan,
Walaupun serbu kali.

Jikalau kamu bertobat,
Tapi selalu tergoda,
Dan kau daif tidak kaut,
Tobat lagi, hai pendosa.

Tobat diterima Tuhan,
Kembali lagi kembali,
Sampai tobatmu bertahan,
Tobatlah berkali-kali.

refrein

Allah memang Maha esa,
Tobatlah di mana-mana,
Minta-minta tobat lagi,
Yakni tobat yang perkasa.

Tobatlah sebelum mati,
Kembali lagi kembali,
Rasa tobat dalam hati,
Bagai madu dan gulali.

refrein

Memang muslim sepantasnya,
Merasa beruntung saja,
Tak merasa putus-asa,
Walau miskin atau raja.

Itulah anugerahnya,
Yakni tobat dan istighfar,
Pada umatnya Mustafa,
Tuhanmu Jawab dan ghaffar.

Refrain

Back to top

Author : Syekh Fattah

Contents from musikdebu.com


Related Posts :



>> Top

0 comments

Post a Comment

Corner

اللهم صل علي محمد ما كان لبشر أن يؤتيه الله الكتاب والحكمة والنبوة ثم يقول للناس كونوا عبادا لي من دون الله ولكن كونوا ربانيين بما كنتم تعلمون الكتاب وبما كنتم تدرسون

Translation

Projects

Blog HomepageOnline LibraryIslamic Quotes & StoriesInformasi Toko Kitab

Online Library

Fragments

Chat Box

Comments

Newest first

Previous Comments

Followers

Site News

Stats