Wednesday, June 3, 2009

Imam Ali's Mathematical Brilliance

Imam Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhah) was endowed with a quick, sharp, incisive, mathematical mind. Here are a few interesting stories in which Imam Ali's mathematical brilliance revealed itself.

Whole Number and not a Fraction

One Day a Jewish person came to Imam Ali (krw), thinking that since Imam Ali thinks he is too smart, I'll ask him such a tough question that he won't be able to answer it and I'll have the chance to embarrass him in front of all the Arabs.

He asked "Imam Ali, tell me a number, that if we divide it by any number from 1-10 the answer will always come in the form of a whole number and not as a fraction."

Imam Ali (krw.) looked back at him and said, "Take the number of days in a year and multiply it with the number of days in a week and you will have your answer."

The Jewish person got astonished but as he was a polytheist (Mushrik), he still didn't believe Imam Ali (krw.). He calculated the answer Imam Ali (krw.) gave him.

To his amazement he came across the following results:
- The number of Days in a Year = 360 (in Arab)
- The Number of Days in a Week = 7
- The product of the two numbers = 360x7=2520

Now...

2520 ÷ 1 = 2520
2520 ÷ 2 = 1260
2520 ÷ 3 = 840
2520 ÷ 4 = 630
2520 ÷ 5 = 504
2520 ÷ 6 = 420
2520 ÷ 7 = 360
2520 ÷ 8 = 315
2520 ÷ 9 = 280
2520 ÷ 10= 252

The Five Loaves of Bread

Zarr Bin Hobeish relates this story: Two travelers sat together on the way to their destination to have a meal. One had five loaves of bread. The other had three. A third traveler was passing by and at the request of the two joined in the meal. The travelers cut each of the loaf of bread in three equal parts. Each of the travelers ate eight broken pieces of the loaf.

At the time of leaving the third traveler took out eight dirhams and gave to the first two men who had offered him the meal, and went away. On receiving the money the two travelers started quarrelling as to who should have how much of the money. The five-loaf-man demanded five dirhams. The three-loaf-man insisted on dividing the money in two equal parts (4 dirhams each).

The dispute was brought to Imam Ali (krw.) (the Caliph of the time in Arabia) to be decided.

Imam Ali (krw.) requested the three-loaf-man to accept three dirhams, because five-loaf-man has been more than fair to you. The three-loaf-man refused and said that he would take only four dirhams.
At this Imam Ali (krw.) replied, "You can have only one dirham. You had eight loaves between yourselves. Each loaf was broken in three parts. Therefore, you had 24 equal parts. 8x3=24

Your 3 loaves made 9 parts out of which you have eaten 8 portions, leaving just 1 piece to the third traveler. (3x3)-8=1
Your friend had 5 loaves which divided into 3 made 15 pieces. He ate 8 pieces and gave 7 pieces to the guest.(5x3)-8=7

As such the guest shared 1 part from your loaves and 7 from those of your friend. So you should get one dirham and your friend should receive seven dirhams."

Dividing Inheritance (Warits)

What is a wife's share?
Imam Ali (krw) was once interrupted while he was delivering a sermon from the pulpit by someone who asked him how to distribute the inheritance of someone who had died leaving a wife, his parents and two daughters. The Imam instantly answered:

"The wife's share becomes one ninth."

How?

This answer is in fact the result of a long analysis with a number of steps. Ordinarily, we have to decide on the original share of each of these heirs, in the following way:

The wife takes one eighth, in view of the presence of an inheriting child. [Holy Quran 4:12]
The deceased's father and mother take one sixth each. [Holy Quran 4:11]
The two daughters take two thirds of the inheritance. [Holy Quran 4:11]

So the total will be: 1/8 + 1/6 + 1/6 + 2/3 = 3/24 + 4/24 + 4/24 + 16/24 = 27/24

This means the share becomes less than 1/8 in view of the increase of the total of the shares which are so fixed and prescribed. So the one eighth, the original share due to the wife out of twenty-four total shares, has become three shares out of a total of twenty-seven, which is one ninth.

Imam Ali's mind went through this complex mathematical process in a second!


aulia-e-hind.com

Friday, May 22, 2009

Digitalisasi Kitab Klasik Karya Ulama Nusantara

Digitalisasi Manuskrip-Manuskrip Peninggalan Aceh

Proyek digitalisasi ini terselenggara berkat sinergi antara Museum Negeri Propinsi D.I. Aceh Darussalam, Museum Ali Hasjmy (YPAH) dan Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh, yang bekerja sama dengan Institut Studi Islam - Universitas Leipzig Jerman.

Sampai dengan saat ini, terdapat 205 judul kitab (dalam kondisi lengkap) yang telah selesai proses digitalization-nya, sedangkan sebanyak 325 judul sisanya masih dalam proses pengerjaan (atau memang tidak bisa dirampungkan karena kondisi fisik kitab).

Pengantar dari website:

"Aceh Darussalam mempunyai banyak peninggalan naskah-naskah kuno yang sangat berharga, yang dikarenakan oleh tsunami pada tahun 2004 mengalami banyak kerusakan dan bahkan sebagian besar hilang. Sebagai contoh: kumpulan koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) hilang terbawa oleh air sama sekali. Naskah-naskah yang dapat diselamatkan adalah merupakan bagian terakhir pustaka tertulis peninggalan sejarah dan budaya Aceh yang untuk dunia pernaskahan dan juga dari sudut emosional mempunyai harga yang tak bisa dinilai dengan apapun.
.........
Kondisi dan keadaan penyimpanan naskah-naskah boleh dikatakan masih sangat sederhana, provisoris dan sering tidak memenuhi standar penyimpanan yang sebenarnya harus menjamin terlindungnya naskah-naskah tersebut dari kerusakan. Kerusakan-kerusakan itu dapat disebabkan oleh iklim tropis, jamur dan rayap. Karena itulah naskah-naskah sedang berada dalam bahaya akut. Jalan keluar yang paling optimal adalah menyelamatkan naskah-naskah tersebut dengan melakukan digitalisasi di samping restorasi, untuk sedapat mungkin mengabadikannya dan menunjukkannya generasi-generasi mendatang."


Berikut disajikan daftar kitab-kitab yang telah selesai dan tersedia gambarnya di website. Perlu diingat bahwa materi-materi ini masih berupa kumpulan gambar hasil scan, jadi masih perlu dirangkai kembali menjadi bentuk buku/ebook agar lebih mudah dibaca.
(Zoom for larger view - Click on ID number to open details in new window)





Untuk informasi lebih lanjut kunjungi homepage Manuskrip Aceh , dan juga situs Islamic Manuscripts at the Leipzig University Library.


Referensi Lain:


---------------------



اللَّهُمَّ أغننا بالعلم ، وزينا بالحلم ، وأكرمنا بالتقوى ، وجملنا بالعافية.. برحمتك يا ارحم الراحمين

Sabīl al-Muhtadīn li al-Tafaqquh fī Amri al-Dīn Muhammad Arsyad ibn Abdullah al-Banjari Melayu
سبيل المهتدين للتفقه في امر الدين محمد ارشد بن عبد الله البنجاري Arabic

Hidāyat al-Sālikīn fī Sulūk Masalak al-Muttaqīn Abdussamad al-Jawi al-Palimbani Melayu
هداية السالكين في سلوك مسلك المتقين عبد الصمد الجاوي الفلمباني

Ilmu Tukang Abdurrahman al-Bawani - Abd al-Rauf
علم توكنغ عبد الرحمن البوانى (Jawi)
Syamsul Ma'rifah ila Hadhratis Syari'ah
شمس المعرفة الى حضرة الشريعة
Tuhfatul Ahbab
تحفة الأحباب

Mawa'izul Badi' (Jawi)
مواعظ البديع

Qawa'idul Islam Arabic


Bidayatul Mubtadi bi Fadhlillahil Muhdi (Jawi)
قواعد الإسلام
بداية المبتدى بفضل الله المهدى

Akhbarul Karim Syeikh Seumatang Aceh
اخبر الكريم

Kasyful Karam fi Bayaninniyyah 'inda Takbiratil Ihram Muhammad Zayn ibn al-Faqih Jalaluddin al-Asyi Melayu
كشف الكرام في بيان النية عند تكبيرة الإحرام محمد زين بن الفقيه جلال الدين الآشي الشافعي

Tafrahatuz Zakirin (Jawi)
تفرحة الذاكرين

Hikayat Siti Latifah Aceh
حكاية سيتى لطيفة

Thariqud Din Muhammad Ali ibn Sari Aceh
طريق الدين محمد على بن سري (Jawi)

Raf'ul Qadar fi Tawassul bi Ahli Badr Abdurrahman al-Azhari al-Syahir bi al-Qabbani Arabic
رفع القدر في التوسل بأهل البدر عبد الرحمن الازهري الشهير بالقباني

Hikayat Syeikh Ahmad Aceh

Tariqatus Shalihin Melayu
طريقة الصالحين

Hijratul Insan Arabic
هجرة الإنسان (Jawi)

Jumlah min Tashrif al-Af'al Arabic
جملة من تصريف الافعال

Khabar Maut Leube Haji Po Suri Peurumoh Haji Panglima Aceh
خبر موت لبى حج فو سورى فرومه حج فغلما
Khabar Neraka
خبر نركا

Mushaf Al-Qur'an Arabic
Mushaf Al-Qur'an

Risālat al-Waḍ' Arabic
رسالة الوضع
Samarqand'alā Sharḥ al-Maḍḍ fī 'Ilm al-Waḍ'
سمرقند على شرح المضد فى علم الوضع

Beukeumunan (Jawi)
بكمنن

Sair al-Salikin ila Ibadah Rabb al-Alamin Abdussamad al-Palembani (Jawi)
سير السالكين الي عبادة رب العالمين عبد الصمد الفلمباني

Talkhish al-Falah fi Bayan Ahkam al-Talak wa Nikah Muhammad Zain ibn al-Faqih Jalaluddin al-Asyi' (Jawi)
تلخيص الفلاح فى بيان أحكام الطلاق و النكاح محمد زين بن الفقيه جلال الدين الآشيئ

Nujūm al-Hudā li Ahl al-Qurbā Melayu
نجوم الهدى لأهل القربى

Hikayat Fathul Khafi Aceh
حكاية فتح الخافي

Thursday, April 30, 2009

Sulthanul Auliya Abu Yazid al-Bisthami

Sulthan al-Auliya wa al-Arifin Qutub al-Aqtab Ghauts al-Shamadani
Hadhrat al-Syaikh Abu Yazid al-Bisthami

“Apa yang aku inginkan ialah pada Hari Qiyamat nanti, aku dapat berada dalam khemahku di tepi tebing Neraka, supaya apabila aku melihatnya api Neraka akan menjadi sejuk dan aku menjadi sebab untuk kerehatan makhluk Tuhan..”



Dari : Tadzkirah al-Ashfiya fi Hayat al-Auliya
Karya: Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi

Khwajah Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih adalah seorang Syeikh yang teragung dalam bidang Tasawwuf dan Keruhanian, khususnya dalam perjalanan Tariqat menuju Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau telah menerima Nisbat ‘Ilmu Batin dari Hadhrat Imam Ja’afar As-Sadiq Radhiyallahu ‘Anhu yang merupakan salah seorang Imam yang teragung dari kalangan Ahli Bait Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
ADHRAT

Nama beliau ialah Taifur Bin ‘Isa Bin Adam Bin Sarushan. Abu Yazid adalah nama Kuniyatnya. Beliau amat dikenali menerusi nama Kuniyatnya dan sering dipanggil dengan nama Bayazid. Datuk beliau pada asalnya adalah seorang Majusi yang menyembah api, kemudian telah bernasib baik diberikan Hidayah dan Nikmat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk memeluk Agama Islam. Bapa beliau adalah seorang yang amat dikenali dan dihormati di Bistam. Beliau hidup sezaman dengan Hadhrat Ahmad Khadhrawiyah Rahmatullah ‘alaih, Hadhrat Abu Hafs Rahmatullah ‘alaih dan Hadhrat Yahya Bin Mu’az Rahmatullah ‘alaih dan beliau juga pernah bertemu dengan Hadhrat Syafiq Balkhi Rahmatullah ‘alaih. Beliau merupakan Ketua bagi Para Wali dan seorang Sultan bagi Para ‘Arifin. Beliau juga merupakan salah seorang periwayat dan pemegang Sanad Hadits yang tinggi serta merupakan pengarang bagi banyak kitab-kitab yang berkaitan dengan ‘Ilmu Hadits Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih merupakan salah seorang dari sepuluh Imam yang begitu disanjung tinggi oleh para pencinta ‘Ilmu Tasawwuf. Tiada seorang pun sebelum beliau yang begitu memberikan penekanan yang tinggi dalam bidang ‘Ilmu Tasawwuf ini. Pada diri beliau terdapat begitu banyak Keramat dan Maqamat yang terhasil menerusi amalan dan latihan Riyadhah dan Mujahadah. Dalam setiap masa dan keadaan beliau begitu mencitai ‘Ilmu Tauhid dan begitu memberikan penumpuan terhadap bidang ‘Ilmu tersebut. Beliau begitu mendahului dalam hal-hal Keruhanian dan Muraqabah sehinggakan Hadhrat Sayyid At-Taifah Junaid Al-Baghdadi Rahmatullah ‘alaih telah berkata, “Hadhrat Abu Yazid di kalangan kami menduduki suatu maqam yang tinggi sepertimana kedudukan Hadhrat Jibril ‘Alaihissalam di kalangan Para Malaikat.”

© Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi 'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi 2

Tazkirah Al-Asfiya Fi Hayat Al-Awliya Hadhrat Sayyid At-Taifah Junaid Al-Baghdadi Rahmatullah ‘alaih juga telah berkata, “Dalam medan Tauhid ini, penghujung bagi mereka yang menjalaninya adalah permulaan bagi orang Khurasan ini,” sambil merujuk kepada Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih. Semenjak awal perjalanannya dalam bidang Tasawwuf, beliau begitu rajin beribadah dan melakukan latihan-latihan Mujahadah dan Riyadhah Keruhanian. Diriwayatkan bahawa beliau telah berkata, “Selama tiga puluh tahun aku begitu giat menjalankan kegiatan Mujahadah dan aku telah dapati bahawa tiada yang lebih sukar dari mempelajari tentang Kesucian Agama dan menuruti segala pengajarannya, namun jika tidak disebabkan terdapatnya perbezaan pendapat dalam Agama yang suci ini aku telah hampir gagal dalam usahaku. Perbezaan pendapat dalam Kesucian Agama ini adalah Rahmat kecuali jika tidak terkeluar dari pengertian Tauhid.”

PENCARIAN KEBENARANNYA DAN KEBENARAN PENCARIANNYA

A

Subhanahu Wa Ta’ala telah meletakkan rasa cinta terhadap DiriNya dan pencarian Ma’rifat ZatNya di dalam hati Hadhrat Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih semenjak beliau kecil lagi. Pada suatu hari ketika beliau berada di samping gurunya sedang mempelajari Al-Quran, ketika sampai pada Surah Luqman yang AyatNya berbunyi, “Inishkur Li Wali Walidaika,” bermaksud, “Bersyukurlah kerana Aku dan kerana kedua ibubapamu.”
LLAH

Ayat ini telah memberikan kesan pada hatinya, lalu beliau meminta izin dari gurunya untuk pulang ke rumah dan bertemu ibunya seraya berkata, “Saya telah sampai pada satu pengertian Ayat yang mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Bersyukurlah kerana Aku dan kerana kedua ibubapamu.” Saya tidak dapat menunaikan hak berkhidmat untuk dua rumah. Oleh kerana Firman Ilahi ini saya begitu sedih, sama ada Ibu memohon dari Allah supaya saya tetap terus bersama Ibu ataupun menyerahkan diri saya untuk Allah Subhanahu Wa Ta’ala sahaja.” Ibunya berkata, “Pergilah. Aku telah lepaskan engkau untuk Jalan Tuhan dan aku memaafkan kamu bagi segala hak-hakku.” Setelah mendapat keizinan dari ibunya, Hadhrat Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih telah keluar dari negeri Bistam dan pergi menyibukkan dirinya dengan beribadat di sebuah hutan dalam negeri Syam selama tiga puluh tahun. Di sana juga beliau giat menjalankan latihan Mujahadah dan Riyadhah Keruhanian. Beliau selalu berada dalam keadaan lapar dan ketika beliau bersolat, disebabkan © Hadhrat Maulawi Jalaluddin Ahmad Ar-Rowi 'Ufiyallahu 'Anhu Wali Walidaihi 3

Tazkirah Al-Asfiya Fi Hayat Al-Awliya dirinya yang begitu Khauf terhadap Tuhan serta mengagungkan Syari’at, dada beliau telah mengeluarkan bunyi yang seolah menggelegak. Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih pernah berkata, “Pada suatu ketika, orang ramai memberitahu bahawa pada tempat yang sekian terdapat seorang Darwish yang Kamil. Daku telah pergi untuk melihatnya. Apabila aku sampai padanya aku melihat bahawa beliau meludah pada arah Qiblat. Pada waktu itu juga aku terus kembali dan aku berkata dalam hatiku, jikalau dalam Tariqat Darwish ini terdapat sebarang martabat tentulah dia tidak akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan Syari’at. Jauh rumahku dari Masjid adalah dalam jarak empat puluh langkah. Demi penghormatanku terhadap Masjid, aku tidak pernah sekalipun meludah dalam perjalananku.” Beliau telah pergi bersafar ke Mekkah untuk menunaikan ‘Ibadat Haji. Dalam perjalanannya, setelah beliau melangkah beberapa langkah lalu beliau pun bersolat Nafil dua raka’at. Beliau melakukan perkara ini dalam perjalanannya ke Mekkah yang mengambil masa selama dua belas tahun. Setelah tiba di Mekkah beliau berkata, “Rumah Tuhan bukanlah pintu gerbang Para Raja.” Pada suatu ketika beliau telah pergi menghadiri musim Haji di Mekkah. Setelah selesai mengerjakan Haji beliau terus saja pulang menuju ke rumahnya tanpa melakukan Ziarah di Madinah Munawwarah. Kemudian, pada tahun yang berikutnya beliau telah pergi melakukan Ziarah Raudhah Hadhrat Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam di Madinah Munawwarah. Beliau berkata, “Menjadikan safar Madinah Munawwarah menuruti safar Mekkah Mukarramah adalah bertentangan dengan adab.” Hadhrat Sultanul ‘Arifin Abu Yazid Taifur Bin ‘Isa Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih pernah berkata, “Aku telah pergi ke Mekkah dan aku melihat sebuah Rumah yang berdiri berasingan. Aku berkata pada diriku, “Hajiku ini tidak diterima kerana aku telah melihat banyak batu yang seumpama ini.” Aku telah pergi sekali lagi dan aku melihat sebuah Rumah yang juga Rumah Tuhan. Aku berkata, “Ini bukanlah hakikat Tauhid yang sebenarnya.” Aku telah pergi kali ketiga dan aku melihat hanya Tuhan Rumah tersebut. Suatu suara datang membisik di hatiku, “Wahai Bayazid, jika engkau tidak melihat DiriNya, engkau tidak akan menjadi seorang Mushrik meskipun engkau dapat melihat seluruh Alam Maya, dan semenjak engkau melihat DiriNya, engkau adalah Mushrik meskipun buta penglihatanmu terhadap seluruh Alam Maya.” Kerana disebabkan perkara itu aku pun bertaubat dengan sebanyakbanyaknya.” Tatkala Hadhrat Abu Yazid pergi ke Madinah, ramai orang yang sama hendak pergi bersama beliau. Beliau berdoa kepada Allah supaya beliau